TRILO.CO.ID

HUT Bhayangkara

Khutbah Idul Adha Ketua KPU Hasyim Asy'ari di depan Presiden Jokowi Viral, Sebut Sifat Kebinatangan Manusia


T
rilo, Jakarta,-
Pasca putusan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang memberhentikan Ketua KPU Hasyim Asy'ari secara tetap, video khutbah Idul Adha 2024 Hasyim di depan Presiden Jokowi viral lagi.

Kala itu Ketua KPU Hasyim Asy'ari membacakan khutbah Idul Adha dihadapan Presiden Joko Widodo dan sejumlah Menteri yang dilaksanakan di Semarang Jawa Tengah.

Video itu viral lagi dengan menayangkan sejumlah cuplikan khutbah Hasyim yang menyampaikan makna berkurban.

Dari cuplikan tentang makna berkurban itu Hasyim menyebutkan bahwa berkurban adalah menyembelih sifat kebinatangan manusia.

"Sifat-sifat kebinatangan terdapat dalam jiwa seseorang, itu harus dikurbankan dan disembelih, itulah makna berkurban," imbuh Hasyim pada khutbahnya Senin, 17 Juni 2024 sebagaimana yang ditayangkan dalam channel Youtube ini.

Kemudian Hasyim melanjutkan makna kedua berkurban adalah jiwa dan perbuatan seseorang harus dilandasi dengan tauhid, iman, dan takwa.

"Sangat banyak sifat kebinatangan yang terdapat dalam diri manusia. Diantaranya sifat mementingkan diri sendiri, sifat sombong, sifat takabur, sikap yang menganggap bahwa hanya golongannya yang selalu benar serta sifat yang memperlakukan sesama atau golongan lain sebagai mangsa atau musuh," tambahnya.


Khutbah Hasyim Asy'ari yang saat itu menjabat Ketua KPU RI viral lagi pasca ia diberhentikan secara tetap oleh DKPP atas kasus dugaan asusila. Entah ada kaitannya atau tidak. Simak cuplikan video Youtube dibagian akhir artikel ini.

Pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail patut kita teladani dan ikuti. Dalam pengertian bahwa kita dengan kemampuan yang ada, bersedia memenuhi dan menaati perintah Allah dengan mengorbankan sebagian dari harta yang kita miliki dan mengorbankan apa yang kita lakukan yang dipandang tidak sesuai dengan perintah dan tuntunan Allah.

Pada hari raya Idul Adha diperintahkan kepada mereka yang mampu untuk menunjukkan kesediaan berkurban dengan penyembelihan seekor hewan ternak.

Penyembelihan terhadap hewan qurban itu mengalirkan darah dan menghasilkan daging yang akan dibagi-bagikan kepada yang berhak.

Patut kiranya dicatat bahwa yang dinilai oleh Allah dalam penyembelihan itu bukan darah yang terpancar dan bukan pula daging yang bergelimpangan itu, melainkan kesucian jiwa dan keikhlasan hati serta kesediaan melakukan kurban.

Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hajj (22) ayat 37:

Artinya: "Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah qurban itu, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian,".

Kesucian jiwa dan keikhlasan hati dalam melaksanakan kurban merupakan satu unsur yang sangat urgen yang harus mendapat perhatian kita.

Hal ini merupakan landasan yang menjadi dasar dalam melaksanakan segala perbuatan dan ibadah kita.

Pernyataan Allah dalam ayat di atas menunjukkan bahwa pengorbanan yang ditampilkan tidak dilihat dari segi materi, kuantitas, dan bentuk lahiriah, tetapi yang dilihat adalah keikhlasan dan niat yang memberi kurban.

Perintah berkurban yang ditujukan kepada Nabi Ibrahim dengan menyembelih putranya, Nabi Ismail, pada hakikatnya adalah ujian bagi kekuatan iman dan takwa Nabi Ibrahim dan Ismail.

Allah ingin melihat sejauh mana kerelaan dan kesediaan keduanya di dalam melaksanakan perintah itu.

Akhirnya, keduanya telah lulus dari ujian Allah dan telah sanggup menunjukkan kualitas iman dan takwa mereka, dan dengan kekuasaan Allah Nabi Ismail yang ketika itu hendak disembelih digantikan dengan seekor kibas oleh Allah.

Hadirin jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah,

Agama kita menetapkan untuk menyembelih kurban binatang, berupa hewan ternak: domba, kambing, kerbau, sapi atau unta. Yang dikurbankan adalah binatang.

Ini mengandung setidaknya dua makna, yaitu (1) sifat-sifat kebinatangan yang terdapat dalam jiwa seseorang harus dikurbankan dan disembelih, dan (2) jiwa dan perbuatan seseorang harus dilandasi dengan tauhid, iman, dan takwa.

Sangat banyak sifat kebinatangan yang terdapat dalam diri manusia, seperti sifat mementingkan diri sendiri, sifat sombong, sifat yang menganggap bahwa hanya golongannyalah yang selalu benar, serta sifat yang memperlakukan sesamanya atau selain golongannya sebagai mangsa, atau musuh.
Sifat kebinatangan yang selalu curiga, menyebarkan isu yang tidak benar, fitnah, rakus, tamak, dan ambisi yang tidak terkendalikan, tidak mau melihat kenyataan hidup, tidak mempan diberi nasihat, tidak mampu mendengar teguran, dll merupakan sifat-sifat yang tercela dalam pandangan Islam.

Sifat-sifat yang demikian, jika tetap dipelihara dan bercokol di dalam diri seseorang, akan membawa kepada ketidakstabilan dalam hidup, ketidak-harmonisan dengan lingkungan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Sifat-sifat yang demikian ini akan memudahkan jalan bagi terciptanya perpecahan dan ketidaktenteraman dalam kehidupan.

Ajaran Islam dengan ajaran kurbannya menghendaki agar seorang Muslim mau mengorbankan sifat-sifat seperti itu dengan tujuan agar kestabilan dan ketenteraman hidup dalam masyarakat dapat diwujudkan dan kedamaian antara sesama manusia dapat direalisasikan.

Ajaran Islam menghendaki agar kurban yang disampaikan harus binatang yang sempurna sifat-sifatnya, jantan, tidak buta, tidak lumpuh, tidak kurus, dan tidak cacat.

Ini mengandung makna bahwa di dalam melakukan kurban, beramal, dan berkarya setiap Muslim dituntut untuk berusaha dalam batas-batas kemampuan maksimal, dengan mengerahkan tenaga secara optimal, tidak bermalas-malasan, tidak melakukan sesuatu dengan sembrono.

Ketua KPU Hasyim Asy'ari diberhentikan atas dugaan pelanggaran asusila terhadap anggota Penyelenggara Pemilu Luar Negeri (PPLN) Den Haag Belanda berinisial CAT atau Cindra Aditi Tejakinkin.

Demikian bunyi Khutbah Idul Adha Ketua KPU Hasyim Asy'ari di depan Presiden Jokowi Viral Lagi, Sebut Sifat Kebinatangan Manusia!***

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama